CARA MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat ketekunan dan antusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi internal) maupun dari luar individu (motivasi eksternal). Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan tentang pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh individu lain/organisasi. Seberapa kuat motivasi yang dimiliki seseorang akan banyak menentukan kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.

Seperti yang telah dikemukakan, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk dalam faktor internal adalah (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan pribadi; (d) kebutuhan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; dan (g) prestasi kerja yang dihasilkan. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain: (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat bekerja; (d) situasi lingkungan pada umumnya; dan (e) sistem imbalan yang berlaku serta cara penerapannya.

Motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang atau motif mempunyai dua unsur, yaitu berupa daya dorong untuk berbuat dan sasaran atau tujuan yang akan diarahkan oleh perbuatan itu. Dua unsur inilah yang membuat seseorang mau melakukan kegiatan dan sekaligus mencapai apa yang dikehendaki melalui kegiatan tersebut. Dan kedua unsur tersebut tidak dapat dipisahkan, karena bila salah satu unsur tidak ada maka tidak akan timbul suatu kegiatan.

Sumber dari motivasi kerja diantaranya adalah adanya kesempatan untuk berkembang, jenis pekerjaan yang dilakukan, serta adanya perasaan bangga menjadi bagian dari organisasi dimana seseorang tersebut bekerja. Di samping itu, motivasi kerja juga dipengaruhi oleh perasaan aman dalam bekerja, gaji yang adil dan kompetitif, lingkungan kerja yang menyenangkan, penghargaan atas prestasi kerja, serta perlakuan yang adil dari pimpinan.

Dalam suatu organisasi formal, motivasi merupakan tugas seorang pimpinan untuk membuat karyawan melakukan apa yang harus dilakukan. Pimpinan dapat memotivasi karyawan dengan berbagai cara, diantaranya:

(1)     Menginspirasi, yaitu dengan memasukkan semangat ke dalam diri orang agar bersedia melakukan sesuatu dengan efektif. Orang diinspirasi melalui kepribadian pimpinan, keteladanannya, dan pekerjaan yang dilakukannya secara sadar atau tidak sadar.

(2)     Mendorong, yaitu dengan merangsang orang untuk melakukan apa saja yang harus dilakukan melalui pujian, persetujuan dan bantuan.

(3)     Mendesak, yaitu membuat orang merasa harus melakukan apa yang harus dilakukan dengan sesuatu cara, termasuk paksaan, kekerasan dan ancaman jika perlu. Namun, motivasi jenis ini sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman dan bersifat negatif karena karyawan bekerja disebabkan adanya paksaan tanpa ada motif dari dirinya sendiri.

Beberapa usaha yang dapat dilakukan oleh pimpinan dalam menumbuhkan motivasi untuk meningkatkan semangat kerja karyawan, diantaranya:

(1) Memberikan kepada karyawan keterangan yang mereka perlukan untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan baik;

(2) Memberikan kesempatan umpan balik secara teratur;

(3) Meminta masukan dari karyawan dan melibatkan mereka di dalam keputusan yang mempengaruhi pekerjaan mereka;

(4) Membuat saluran komunikasi yang mudah dipergunakan, sehingga karyawan dapat menggunakannya untuk mengutarakan pertanyaan/kehawatiran mereka dan memperoleh jawaban;

(5) Belajar dari para karyawan itu sendiri apa yang memotivasi mereka;

(6) Menghargai karyawan karena pekerjaan mereka yang baik secara umum;

(7) Terus menerus memelihara hubungan dengan karyawan yang dbawahi;

(8) Memberi selamat secara pribadi kepada karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik;

(9) Kenalilah kebutuhan-kebutuhan pribadi karyawan karena karyawan akan lebih terdorong untuk bekerja bagi perusahaan yang memperhatikan keperluan pribadinya;

(10) Menulis memo secara pribadi kepada karyawan tentang hasil kinerja mereka;

(11) Memastikan apakah karyawan mempunyai sarana kerja yang terbaik;

(12) Memberi karyawan satu pekerjaan yang baik untuk dikerjakan dan pimpinan harus memperlihatkan kepada karyawan bagaimana mereka dapat berkembang dan memberi kesempatan untuk mempelajari kemampuan-kemampuan baru;

(13) Membantu berkembangnya rasa “bermasyarakat” sehingga karyawan akan merasa betah di dalamnya;

(14) Gajilah karyawan secara bersaing berdasarkan apa yang mereka kerjakan;

(15) Menawarkan “pembagian keuntungan” (profit sharing) kepada karyawan.

DAFTAR PUSTAKA

http://cokroaminoto.wordpress.com/2007/05/23/20-cara-terbaik-memotivasi-karyawan/#comment-1023

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/06/teori-teori-motivasi/

http://id.wikipedia.org/wiki/TEORI_MOTIVASI

Sulistiyani, A. T. 2004. Memahami Good Governance : Dalam Perspektif Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.


Posted in MSDM by with 3 comments.

Komentar blog tentang “IT Outsourcing”

saya sependapat bahwa untuk memilih alternatif terbaik dalam pengimplementasian suatu sistem informasi tidak hanya tergantung pada biaya dan waktu, tetapi pengguna dari informasi itu sendiri juga merupakan faktor signifikan dalam pemilihan sistem informasi. jika terjadi communication gap antara user dengan IT spesialist maka pengembangan dan penerapan SI tidak akan berjalan dengan baik.

http://insidewinme.blogspot.com/2008/03/telaah-jurnal-sistem-informasi.html

saya pernah membaca suatu artikel yang mengatakan salah satu kunci kesuksesan dari outsourcing adalah kesepakatan untuk membuat hubungan jangka panjang, tidak hanya kepada proyek jangka pendek karena pihak outsourcer harus memahami proses bisnis dari perusahaan. bagaimana kita dapat memastikan bahwa kesepakatan ini akan bertahan lama dan menguntungkan kedua belah pihak? apakah dengan kesepakatan jangka panjang ini dapat membuat perusahaan menjadi sangat bergantung dengan outsourcing dan tidak mandiri? mohon pendapatnya?

http://adabisnis.com/outsourcing-kan-pekerjaan-anda/

saya Angel, mahasiswa MB IPB. Saya tertarik dengan tulisan bapak mengenai outsourcing dan insourcing, mohon ijin untuk saya jadikan referensi tugas saya.

http://habahate.blogspot.com/2009/06/outsourcing-dan-insourcing.html

outsourcing memang bisa menjadi solusi, tapi perlu diperhatikan pula kelemahan dan keuntungan penggunaan outsourcing bagi perusahaan.

http://www.biskom.web.id/2008/07/22/outsourcing-solusi-sistem-informasi-masa-depan.bwi/comment-page-1#comment-1612

klo menurut saya mbak, seperti telah dijelaskan di atas untuk kegiatan2 yg merupakan core business perusahaan, sebaiknya perusahaan memilih sistem insourcing karena disana banyak data2 atau informasi yang confidential, shg khawatir klo diserahkan kepada pihak luar data/informasi tersebut dapat bocor ke pesaing. sedangkan untuk aktivitas2 bisnis yg bkn kompetensi inti perusahaan bs pke sistem outsourcing. CMIIW

http://angelia.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/31/membandingkan-pengembangan-sistem-informasi-secara-outsourcing-dan-insourcing-2/#comments

artikel yg menarik..di era global sekarang sudah banyak perusahaan yg memanfaatkan internet sbg salah satu peluang bisnisnya. saya rasa tak jadi soal jika perusahaan mengeluarkan budget untuk mengembangkan web perusahaan baik secara outsourcing maupun selfcourcing.

http://www.masjoe.com/the-best-reasons-for-your-to-outsource-web-design.html/ comment-page-4#comment-2133

Anda mengatakan masih banyak masalah dalam menentukan partner outsourcing di indonesia. menurut anda faktor apakah yang menjadi masalah utamanya? dan bagaimanakah cara suatu perusahaan dapat memilih partner outsourcing yang dapat memenuhi kebutuhan perusahaan dengan tepat?

http://rahard.wordpress.com/2006/02/25/kesulitan-outsourcing-di-indonesia/

nice info..

saya sependapat bahwa perusahaan sebaiknya memilih selective outsourcing. selain terkait budget jg krn beberapa fungsi bisnis masih dapat di handle oleh internal perusahaan, terutama yg terkait core bisnis perusahaan tersebut

http://triatmono.wordpress.com/2007/11/28/best-practice-it-outsourcing/

untuk beberapa case yg terkait core bisnis perusahaan menurut saya sebaiknya dikembangkan oleh internal perusahaan

http://www.setiabudi.name/archives/1141/comment-page-3#comment-1871

memang ada plus minusnya menggunakan jasa outsourcing. sebaiknya pilih selective outsourcing saja jgn total outsourcing

http://blog.i-tech.ac.id/deasy/2009/08/11/kasus-it-outsourcing-pengolahan-data/#comment-104

artikel yg menarik. saya sependapat bahwa untuk mengembangkan IT perusahaan harus memiliki manajemen proyek yg baik berisi orang2 yg kompeten dan fokus pada proyek yg dikerjakannya. untuk meminimalisir kegagalan, sebaiknya dalam manajemen proyek end user jg diikutsertakan.

http://www.maestroglobal.info/manajemen-proyek-ti-pilihan-atau-keharusan/comment-page-1/#comment-102

apakah keputusan melakukan outsourcing hanya didasarkan pada budget saja, atau ada faktor2 lainnya? Thanks

http://yuvenalia.blog.binusian.org/2010/01/03/sourcing/#comment-187

jika tidak menyangkut core bisnis perusahaan, menurut saya tidak masalah jika harus outsource

http://www.ekurniawan.net/artikel-it/pentingnya-outsourcing-bidang-teknologi-informasi-8.html

menurut saya jika perusahaan menerapkan outsourcing dalam pengembangan sistem informasinya, maka kontrol perusahaan terhadap SI-nya akan berkurang. Ketergantungan dengan perusahaan pengembang SI akan terbentuk karena perusahaan kurang memahami SI/TI yang dikembangkan pihak outsourcer sehingga sulit untuk mengembangkan atau melakukan inovasi secara internal di masa mendatang. CMIIW

http://ayusuryadi.multiply.com/reviews/item/12

artikel yg menarik. keputusan perusahaan untuk menggunakan metode2 di atas tentunya didasarkan pada kebutuhan, budget, ataupun core bisnis perusahaan

http://www.tech-id.co.cc/2010/05/pendekatan-pengembangan-sistem.html?showComment=1280670481289_AIe9_BGsAG3xCEl8g4hzzHe-NOwftXdM3w6CYrnEofvmw5CVjQhuKlG1pZ-VRuFW0ThnBWCcNFvrV57PC36e6Fz1XqPBk3LaGAaXmC8pJt0R5kZZDC2NM6wh6DA-E3KFbvI4lfR62AVlFQU3f1BRkk-3IkWkDpfFuwz4Dmdd9EAdNwB02iqcPvoyYUt-wMoaNFO_Yeu6IviQO8RB0Ka6MvKxhwUgBLBB_EYBj9v72ctvZm7O0KgcepYwSdLjC92KXfNCsV0tvokTk8sbTvxcG-bA8y7EpOPx1Agmua18eISX3ihsXQpx1cQ06KBEBc41W160w7_KbL4Fj8kTTjcGau_ZU_mt4kTOTel86FPm6tUvsK_bSf3f8NyHiOQiESyUbIAVE6la82GQ3eCV4vEM8AkiPQ3CX3WoccqIbnDQ85RAaIuz7Hpu4Nm6vS6HGVIcVUBsK5-wQnE7-yMyUHzafz2mKfFGXSgsqYlhLzYZEHf3iSjMXQPg8XanYDgXlyxyHebOcdE-o_QRczt6p-OF29-qeeOHo14PagUfe2V6D-OcBSebOiyCERMot2bKhMz20s9XbyjpTqur#c8449430557566059454

sebaiknya perusahaan menerapkan selective outsourcing bukan total outsourcing dengan short-term contract

http://pimpimarda.blog.com/2010/01/10/it-outsourcing/comment-page-1/#comment-77

di era global skarang, outsourcing IT sudah lumrah dilakukan banyak perushaan. selain mengurangi cost, perusahaan jadi dapat fokus pada core bisnisnya.

sukses terus untuk metrodata

http://swa.co.id/2006/08/metrodata-tetap-fokus-pada-it-outsourcing-dan-distributor/comment-page-1/#comment-1741

menurut saya saat ini masih sedikit sekali atau mungkin belum ada UMKM yang memanfaatkan jasa outsorcing untuk pengembangan IT-nya mengingat ruang lingkup bisnisnya yang masih kecil dan terbatas.

http://sabukhitam.com/blog/topic/internet-marketing/strategi-implementasi-sistem-informasi-pada-usaha-kecil-dan-menengah.html/comment-page-1#comment-172

semakin berkembangnya teknologi membuat perusahaan berfikir untuk mendelegasikan sebagian fungsi-fungsi non-core business kepada pihak outsourcing sehingga dapat fokus pada mainstream perusahaan

http://rivafauziah.wordpress.com/wp-comments-post.php

saat ini banyak perusahaan yang memanfaatkan jasa IT outsource dalam menjalankan bisnisnya. hendaknya dalam merekrut karyawan, tidak hanya dilihat kompetensinya saja tetapi juga attitude dan behaviournya. semoga sukses selalu!

http://blogs.konsep.net/micowendy/2008/portal-outsourcing-it-consultant-pm-indonesia/comment-page-1/#comment-1004


Posted in Sistem Informasi Manajemen by with comments disabled.

(4) Apa yang saudara ketahui tentang ERP (Enterprise Resource Planning) dan bagaimana implementasi sistem informasi yang berbasis ERP. Jelaskan!

Menurut O’Brien dan Marakas (2010), Enterprise Resource Planning (ERP) adalah sistem lintas fungsional yang didukung oleh serangkaian modul perangkat lunak terintegrasi yang menyokong proses internal bisnis perusahaan. Contoh perangkat lunak ERP antara lain: SAP, PeopleSoft, Oracle, dan JDEdwards. ERP telah berkembang sebagai alat integrasi yang bertujuan untuk mengintegrasikan semua aplikasi perusahaan atau aktivitas inti perusahaan yang meliputi penjualan dan pemasaran, pemeliharaan, produksi/manufakturing, pengadaan/logistik, gudang, SDM, Umum dan Keuangan ke pusat penyimpanan data (server) dan dapat dengan mudah diakses oleh semua unit kerja yang membutuhkan.

Terdapat beberapa manfaat atau keuntungan dari diterapkannya ERP di perusahaan, diantaranya adalah:

1)    Meningkatkan kualitas dan efisiensi dalam pelayanan, produksi, maupun distribusi perusahaan karena ERP mampu mengintegrasikan dan mengembangkan proses internal bisnis perusahaan.

2)    Menurunkan biaya seperti biaya transaksi, hardware, software, dan staf penyokong TI.

3)    Mendukung proses pengambilan keputusan, karena ERP dapat menyediakan informasi lintas fungsional dan kinerja bisnis kepada manajer yang membantunya dalam pengambilan keputusan penting perusahaan.

4)    Enterprise agility. Penerapan sistem ERP telh menjebol dinding fungsional dan departemental dari proses bisnis, sistem informasi dan sumberdaya informasi. Hal ini menyebabkan struktur organisasi, tanggung jawab manajerial dan tugas pekerjaan menjadi lebih fleksibel dan adaptif.

Namun demikian, penerapan ERP di dalam suatu perusahaan sering menemui kendala yang berujung pada kegagalan implementasi ERP. Beberapa penyebab kegagalan implementasi ERP adalah :

1)    Manajemen perubahan dan training. Biasanya kesulitan terbesar terletak pada perubahan praktek pekerjaan yang harus dilakukan. Disamping itu training yang melibatkan banyak modul seharusnya dilaksanakan seawal mungkin.

2)    To BPR or not to BPR. Perusahaan harus memilih antara merubah bisnis proses untuk menyesuaikan sistem atau sebaliknya, dengan implikasi berupa biaya dan waktu untuk merubah sistem.

3)    Perencanaan yang buruk. Perencanaan harus mencakup beberapa area seperti hal-hal bisnis dan ketersediaan user untuk membuat keputusan pada konfigurasi sistem.

4)    Meremehkan keahlian IT. Implementasi ERP membutuhkan keahlian staff ditingkatkan dengan baik.

5)    Manajemen proyek yang buruk. Hanya sedikit organisasi yang mengimplementasi ERP tanpa melibatkan konsultan. Namun sering kali konsultan melakukan perbuatan yang merugikan kliennya dengan tidak membagi tanggung jawab.

6)    Percobaan-percobaan teknologi. Usaha-usaha untuk membangun interface, merubah laporan-laporan, menyesuaikan software dan merubah data biasanya diremehkan.

7)    Rendahnya keterlibatan Eksekutif. Implementasi membutuhkan keterlibatan eksekutif senior untuk memastikan adaya partisipasi yang terdiri dari bisnis dan IT dan membantu penyelesaian konflik-konflik.

8)    Meremehkan sumber daya. Sebagian besar budget melebihi target terutama untuk manajemen perubahan dan training user, pengujian integrasi, proses-proses pengerjaan ulang, kustomisasi laporan dan biaya konsultan.

9)    Evaluasi software yang tidak mencukupi. Organisasi biasanya tidak cukup memahami apa dan bagaimana software ERP bekerja sampai mereka sepakat untuk membeli.

Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut ada dua cara yang disarankan, yaitu dengan melakukan perubahan budaya dan manajemen perubahan yang baik. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah : (1) Implementasi Change Acceleration Project (CAP) untuk mengelola perubahan-perubahan yang terjadi dalam implementasi ERP; (2) Pendekatan dengan user sebelum penerapan sistem ERP melalui presentasi-presentasi untuk menunjukkan kelebihan-kelebihan implementasi sistem tersebut; dan (3) Pengembangan Sistem Recovery dalam Implementasi ERP.

Implementasi ERP

Implementasi ERP lebih bersifat suatu perubahan proses bisnis dan budaya kerja. ERP memungkinkan perubahan struktur perusahaan dari functional oriented menjadi process oriented. Selain itu, Penerapan ERP di suatu perusahaan harus didukung oleh ketersediaan suatu aplikasi/teknologi terintegrasi yang dapat mendukung proses bisnis. Aplikasi ERP akan menjadikan perusahaan mampu beroperasi secara kolaboratif, value-add driven dalam moda real-time. Memang ERP tidak seumum perangkat lunak aplikasi seperti produk-produk dari Microsoft atau Lotus, maupun Linux, tapi kegunaannya lebih meluas yaitu suatu aplikasi client/server yang dipakai untuk mengelola proses suatu perusahaan secara keseluruhan, mulai dari financial & accounting, sales & distribution, inventory, product planning, hingga human resources.

Hampir seluruh data dan informasi yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan tersimpan dan diolah oleh perangkat lunak ERP ini. Tujuannya tak lain adalah untuk efisiensi dan transparansi, sehingga bila perlu adanya suatu konsolidasi data, maka tidak akan menimbulkan kesulitan dalam penggabungan informasi. Popularitas dari ERP ini mulai muncul sejak beberapa perusahaan memperoleh suatu keuntungan besar karena seluruh kegiatan mereka dapat diotomasi (lebih cepat dan efisien) melalui suatu proses pengolahan data yang akurat.

Dalam konsep tradisional, suatu perusahaan akan membentuk tim khusus untuk mengimplementasikan ERP. Para ahli yang diperlukan untuk menjalankan proyek implementasi tersebut sudah pasti melibatkan tenaga dari perusahaan itu sendiri dan dibantu oleh sejumlah tenaga ahli dari sebuah vendor berkapasitas teknologi informasi (TI) atau perusahaan konsultan TI. Setelah proyek dimulai, seluruh anggota tim proyek bekerja secara full-time hingga proyek tersebut selesai. Cara seperti di atas telah berjalan dengan baik di masa lalu, dan masih banyak diterapkan pula oleh berbagai organisasi.

Namun, ternyata dalam mengimplementasikan ERP software ini tetap ada kendalanya. Kendala utama adalah pada cakupan kerja software yang melingkupi segala proses bisnis atau aspek dari suatu perusahaan sehingga proses implementasi menjadi sangat kompleks. Di samping itu, implementasinya pun akan banyak memerlukan tenaga ahli, hingga mencapai puluhan hanya untuk satu proyek. Dapat disimpulkan bahwa implementasi ERP software ini akan memakan waktu dan biaya yang ternyata tidak terlalu murah sehingga biaya yang semula cukup rendah dapat membengkak di luar rencana investasi semula. Padahal kalau tidak diimplementasikan salah juga, karena bisa-bisa ketinggalan di bidang teknologi maupun proses.

Salah satu solusinya adalah dengan memanfaatkan jasa vendor/konsultan yang kompeten. Banyak keuntungan yang didapatkan oleh suatu perusahaan yang memanfaatkan jasa vendor/konsultan. Dalam menjalankan proyek, keuntungan yang diperoleh adalah dari segi kualitas dan kecepatan dalam melakukan pekerjaan karena vendor dilengkapi oleh tenaga ahli yang telah berpengalaman dan juga dilengkapi dengan tools, process standard, dan best practices; kualitas pekerjaan akan meningkat dan diselesaikan lebih cepat. Selain itu, perusahaan juga dapat mengurangi biaya implementasi.

REFERENSI

O’Brien, J. A. and G. M. Marakas. 2010. Introduction to Information Systems, fifteenth edition. The McGraw-Hill Companies, Inc.

Surjotedjo, Hamidjojo. (2002). Implementasi Perangkat Lunak ERP. http://www.freelists.org/post/untirtanet/Implementasi-Perangkat-Lunak-ERP

http://www.intacsindo.com/art-2.html


Posted in Sistem Informasi Manajemen by with comments disabled.

(3) Apa urgensi maintainability dari suatu software? Jelaskan?

Maintainability didefinisikan sebagai kemudahan suatu software untuk dimengerti, diperbaiki, diadaptasi dan/atau dikembangkan. Maintainability dari suatu software dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Kecerobohan/kekurang hati-hatian dalam desain, coding, dan testing akan memberikan dampak negatif yang jelas untuk kemampuan pemeliharaan software yang dihasilkan. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi maintainability adalah rencana untuk maintainability itu sendiri. Jika software dilihat sebagai elemen sistem yang akan diubah sewaktu-waktu, maka software yang berkemampuan untuk dipelihara akan dibuat.

Aktifitas maintenance antara lain mencakup :

  • Aktifitas Penambahan atau perbaikan produk software meliputi :

a)      Penambahan fungsi-fungsi baru

b)      Perbaikan tampilan dan modus interaktif

c)       Memperbaharui dokumen eksternal

d)      Memperbaharui karakteristik performansi dan sistem

  • Adaptasi produk dengan lingkungan operasional yang baru(hardware, sistem operasi, dll), mencakup :

a)      Pemindahan software ke hardware yang lain

b)      Modifikasi untuk dapat mempergunakan protokol tambahan, dll

  • Pembetulan permasalahan yang timbul, mencakup :

a)      pembenaran kesalahan yang timbul setelah produk software dipergunakan oleh user

Biasanya 70 % dari seluruh biaya pengembangan adalah untuk pemeliharaan. Dari seluruh biaya pemeliharaan, 60 % digunakan untuk anggaran penambahan atau perbaikan perangkat lunak, sisanya untuk adaptasi atau pembentulan.

Karakteristik software yang mudah dalam pemeliharaan antara lain : (1) Perangkat lunak dikerjakan per modul, (2) Perangkat lunak mempunyai kejelasan, (3) Dokumentasi internal yang baik dan jelas, (4) Dilengkapi dokumen-dokumen pendukung lainnya. Pemeliharaan juga mempengaruhi dokumen pendukung seperti : (1) Dokumen spesifikasi kebutuhan perangkat lunak, (2) Dokumen rancangan, (3) Dokumen rencana pengujian, (4) Prinsip pengoperasian, (5) Petunjuk pemakaian.

Pemeliharaan sistem berawal begitu sistem baru menjadi operasional dan berakhir masa hidupnya. Berdasarkan jenisnya, pemeliharaan software dibedakan menjadi :

1. Corrective Maintenance

Pemeliharaan ini untuk merespon terjadinya kesalahan-kesalahan saat produk dioperasikan baik berupa bug ataupun berupa output yang tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna

2. Adaptive Maintenance

Pemeliharaan ini untuk merespon perubahan yang terjadi pada lingkungan yang mempengaruhi perangkat lunak tersebut (seperti perangkat keras, sistem operasi, prosedur bisnis, kebijakan, dll)

3. Perfective maintenance

Pemeliharaan ini untuk merespon permintaan tambahan berupa fungsi-fungsi baru yang muncul setelah pengguna melakukan uji coba perangkat lunak tersebut

4. Preventif maintenance

Pemeliharaan ini dilakuan untuk melakukan reengineering terhadap perangkat lunak agar lebih mudah diperbaiki, memiliki tingkat adaptasi yang tinggi dan mudah mengakomodasi munculnya kebutuhan baru.

REFERENSI

http://images.lie2phoet.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/S1quMgooCkUAAAjbRAg1/bab_6_pemeliharaan_perangkat_lunak.pdf?nmid=312415906

http://ayuliana_st.staff.gunadarma.ac.id/…/Pertemuan+08+-+_Software+ Maintenance_.pdf


Posted in Sistem Informasi Manajemen by with comments disabled.

(2) Jelaskan mengapa kegagalan konversi sistem dapat terjadi! Jelaskan pula berbagai cara dalam pengkonversian sistem!

Suatu kesalahan/kegagalan dapat saja terjadi dan berakibat fatal pada organisasi ketika mereka melakukan pengalihan/konversi dari suatu sistem lama ke sistem yang baru. Faktor manusia, proses dan teknologi adalah beberapa penyebabnya. Namun demikian, kebanyakan kegagalan justru terjadi bukan karena teknologinya, tetapi lebih kepada masalah selain teknologi. Beberapa penyebab suatu sistem baru gagal untuk diimplementasikan adalah:

1)    Minimnya integrasi program manajemen perubahan. Implementasi sistem teknologi informasi (TI) tentunya membutuhkan perubahan radikal, mulai dari pola pikir, cara kerja, sampai pada pelaksanaan rutinitas sehari-hari. Misalnya untuk membuat user kompatibel terhadap sistem kerja baru membutuhkan usaha yang lebih dari sekedar instalasi dan training teknis.

2)    Kegagalan menjabarkan business value. Kebanyakan implementator melakukan kesalahan yang paling mendasar, yaitu dalam mengimpementasikan sistem baru hanya melihat dari sisi teknologi saja. Kebanyakan dari mereka hanya menghabiskan waktu untuk membuat analisa, desain dan arsitektur tetapi lupa bahwa sistem baru dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah bisnis mereka. Jadi, sebaiknya perusahaan memulai dengan melihat masalah bisnisnya terlebih dulu.

3)    Meremehkan akibat yang ditimbulkan karena perubahan organisasi. Resisten terhadap perubahan merupakan faktor utama yang menggagalkan sebuah proyek, resistensi seringkali terjadi karena takut berubah dan menyesuaikan dengan sistem yang baru. Untuk mengatasinya perlu dibuat suatu rencana Manajemen Perubahan Organisasi (OCM).

4)    Kekurangan tenaga ahli. Dalam implementasi suatu sistem/teknologi baru dibutuhkan tenaga-tenaga yang ahli dibidangnya. Perusahaan biasanya tidak mempersiapkan tenaga tersebut dalam implementasi sistem barunya.

5)    Membiarkan vendor mengatur arsitektur bisnis perusahaan. Impementasi sistem baru sebaiknya tidak diserahkan sepenuhnya ke vendor, karena biar bagaimanapun perusahaan adalah yang paling memahami proses bisnis yang dijalaninya, sehingga akan sangat mungkin terjadi kekacauan apabila vendor yang memegang kendali terhadap perencanaan dan pengembangan aplikasi bisnis perusahaan. Partisipasi langsung end user dalam perencanaan dan pengembangan aplikasi bisnis perusahaan sangatlah penting untuk memastikan bahwa sistem tersebut memenuhi kebutuhan mereka.

6)    Kemampuan manajemen proyek yang lemah/buruk. Perusahaan tidak memperhatikan manajemen proyek sebagai sesuatu yang penting sehingga proses-proses implementasi sistem tidak mengacu standar manajemen proyek yang diawali dengan perencanaan. Di samping itu, kurangnya sumberdaya yang berdedikasi dan berkonsentrasi penuh sehingga kelanjutan implementasi sistem baru dapat tersendat.

7)    Perencanaan yang buruk. Perencanaan harus mencakup beberapa area seperti hal-hal bisnis dan ketersediaan user untuk membuat keputusan pada konfigurasi sistem.

8)    Percobaan-percobaan teknologi. Usaha-usaha untuk membangun interface, mengubah laporan-laporan, menyesuaikan software dan mengubah data biasanya diremehkan.

9)    Rendahnya keterlibatan Eksekutif. Implementasi membutuhkan keterlibatan eksekutif senior untuk memastikan adanya partisipasi yang terdiri dari bisnis dan TI serta dapat membantu penyelesaian konflik-konflik.

10) Meremehkan sumber daya. Sebagian besar budget melebihi target, terutama untuk manajemen perubahan dan training user, pengujian integrasi, proses-proses pengerjaan ulang, customisasi laporan dan biaya konsultan.

11) Evaluasi sistem informasi yang tidak mencukupi. Organisasi biasanya tidak cukup memahami apa dan bagaimana sistem/teknologi informasi bekerja sampai mereka sepakat untuk menerapkannya.

Pengimplementasian sistem bisnis yang baru di perusahaan memerlukan suatu proses konversi. Konversi sistem merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan sistem baru dalam rangka menggantikan sistem yang lama atau proses pengubahan dari sistem lama ke sistem baru. Metode konversi ini dapat mengurangi dampak dari pengenalan teknologi informasi baru di perusahaan. Empat bentuk utama konversi sistem informasi adalah :

1)    Konversi Sistem Secara Langsung

Disebut juga sbg Cold Turkey yaitu langsung menghentikan sistem lama dan menjalankan sistem baru. Konversi sistem ini dilakukan apabila : (1) Sistem lama sudah tidak berfungsi sama sekali, (2) Sistem baru bersifat kecil/sederhana, (3) Tidak baru menggantikan sistem lain, dan (4) Rancangan sistem baru sangat berbeda dengan sistem lama.

Kelebihan : biaya yang relatif tidak mahal

Kekurangan : resiko kegagalan yang tinggi

2)    Konversi Paralel

Sistem lama dan sistem baru beroperasi secara serentak untuk beberapa periode waktu. Pada konversi ini, output dari masing-masing sistem tersebut dibandingkan, dan perbedaannya direkonsiliasi.

Kelebihan : pendekatan ini memberikan derajat proteksi yang tinggi dari kegagalan sistem baru.

Kekurangan : biaya besar untuk penduplikasian fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut.

3)    Konversi Phase-In (bertahap/modular)

Sistem baru diimplementasikan beberapa kali yang secara perlahan mengganti sistem yang lama. Konversi ini menghindarkan dari resiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberi waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasimilasi perubahan.

Kelebihan : kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu dapat diminimisasi, dan sumber-sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama periode waktu yang cukup luas.

Kekurangan : biaya yang ditiadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat di organisasi karena orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem.

4)    Konversi Pilot

Konversi ini mengsegmentasi organisasi yaitu hanya sebagian dari organisasi mencoba mengembangkan sistem baru. Sebelum sistem baru diimplementasikan ke seluruh organisasi, sistem pilot ini harus membuktikan di tempat pengujian tersebut.

Kelebihan: lebih sedikit beresiko dibandingkan metode konversi langsung, dan lebih murah dibanding metode paralel. Segala kesalahan dapat dilokalisir dan dikoreksi sebelum implementasi lebih jauh dilakukan.

Kekurangan: membutuhkan area (sebagian) dari organisasi untuk uji coba.

REFERENSI

O’Brien, J. A. and G. M. Marakas. 2010. Introduction to Information Systems, fifteenth  edition. The McGraw-Hill Companies, Inc.

http://ekonomi.kompasiana.com/group/manajemen/2010/07/29/implementasi-it-koq-sering-gagal-ya/

http://rofiq.yuliardi.com/share/bergbagai-alasan-kenapa-gagal-mengimplementasi-soa/

http://www.intacsindo.com/art-2.html

sutedjo.staff.gunadarma.ac.id/…/files/…/System-ImplementationKonversi2.ppt


Posted in Sistem Informasi Manajemen by with 1 comment.

(1) Apa yang membedakan pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi?

Pengembangan software (atau disebut juga software engineering) adalah pengembangan perangkat lunak dalam proses yang terencana dan terstruktur. Istilah pengembangan perangkat lunak (software) ini sering digunakan untuk merujuk pada aktivitas pemrograman komputer, yang merupakan proses menulis dan memelihara source code. Pengembangan perangkat lunak mungkin mencakup penelitian, pengembangan baru, modifikasi, menggunakan kembali, re-engineering, pemeliharaan, atau kegiatan lain yang menghasilkan produk perangkat lunak.

Kebanyakan metodologi pengembangan perangkat lunak memanfaatkan beberapa kombinasi dari tahapan perangkat lunak berikut:

1)    Market research

2)    Mengumpulkan syarat-syarat untuk solusi bisnis yang diusulkan

3)    Menganalisis masalah

4)    Menyusun sebuah rencana atau desain untuk software-based solution

5)    Implementasi (coding) dari perangkat lunak

6)    Pengujian perangkat lunak

7)    Pengembangan

8)    Pemeliharaan dan perbaikan bug

Tahapan-tahapan di atas sering disebut secara kolektif sebagai siklus pengembangan perangkat lunak atau software development life cycle (SDLC). Secara umum, proses pengembangan software terdiri dari 3 fase, yaitu :

1)    Fase Definisi

  • Sistem Analis, menetapkan peranan dari setiap elemen dalam sistem berbasis komputer, terutama menga­lokasikan peranan software
  • Sistem Software Planning, setelah lingkungan software dialokasikan maka langkah dari sistem software plan­ning ini adalah pengalokasian resource, estimasi biaya, penetapan tugas pekerjaan dan jadwal
  • Requirement Analysis, penetapan lingkup untuk software memberikan petunjuk/arah. Namun, definisi yang lebih rinci dari in­formasi dan fungsi software diperlukan sebelum pekerjaan dimulai

2)    Fase Pengembangan (Development)

  • Software design, menterjemahkan kebutuhan-kebutuhan software ke dalam sekumpulan representasi (grafik, ta­bel, diagram, atau bahasa yang menjelaskan struktur data, arsitektur software dan prosedur algoritma)
  • Coding, merupakan proses penterjemahan desain ke dalam artificial language yang menghasilkan perintah-perintah yang dapat dieksekusi oleh komputer
  • Testing, sesudah software diimplementasikan dalam bentuk yang dapat dieksekusi oleh mesin, software perlu dites untuk menemukan kesalahan (merupakan fungsi logika dan implementasi)

3)    Fase Pemeliharaan (Maintenance)

  • Perubahan karena software error (Corective Maintenance)
  • Perubahan karena software disesuaikan/diadaptasi dengan lingkungan external, misalnya munculnya CPU baru, sistem operasi baru (Adaptive Maintenance)
  • Perubahan software yang disebabkan customer/user meminta fungsi tambahan, misalnya fungsi grafik, fungsi matematik, dll (Perfective Maintenance)

Pengembangan sistem informasi sering disebut sebagai proses pengembangan sistem (System Development) yang dapat didefinisikan sebagai aktivitas untuk menghasilkan sistem informasi berbasis komputer untuk menyelesaikan persoalan (problem) organisasi atau memanfaatkan kesempatan (opportunities) yang timbul.

Metodologi pengembangan sistem diklasifikasikan menjadi 3 golongan :

1)    Functional Decomposition Methodologies (Metodologi Pemecahan Fungsional)

  • HIPO (Hierarchy Input Process Output),
  • SR (Stepwise Refinement),
  • ISR (Iterative Stepwise Refinement),
  • Information Hiding

2)    Data Oriented Methodologies (Metodologi Orientasi Data)

  • Data Flow Oriented Methodologies : SADT, Composite Design, SSAD
  • Data Structure Oriented Methodologies : JSD, W/O

3)    Prescriptive Methodologies

  • ISDOS, PLEXSYS, PRIDE, SPEKTRUM

Ada banyak metode pengembangan sistem yang tersedia. Metode yang paling dikenal disebut juga sebagai System Development Life Cycle (SDLC) atau sering juga disebut sebagai Waterfall Method. Model ini mengusulkan sebuah pendekatan perkembangan perangkat lunak yang sistematik dan sekuensial yang dimulai pada tingkat dan kemajuan sistem pada seluruh analisis, desain, kode, pengujian, dan pemeliharaan. Metode-metode lain yang dikenal antara lain: Prototyping, Application Software, End-User Development, Outsourcing, dan lain-lain. Metode prototyping adalah suatu teknik analisis dan rancangan yang memungkinkan pengguna ikut serta dalam menentukan kebutuhan dan pembentukan sistem apa yang akan dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Alternatif lain adalah dengan membeli software aplikasi yaitu paket software yang sudah jadi, misalkan membeli SAP, MSProject, dll. Metode End-User Development ditandai dengan keterlibatan langsung end-user dalam pengembangan sistem informasi. Sedangkan outsourcing dilakukan melalui kontrak dengan pihak luar untuk menangani baik pengembangan maupun operasi dan pemeliharaan sistem.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan perbedaan antara pengembangan sistem informasi dengan pengembangan software adalah pengembangan sistem berkaitan dengan semua aspek dalam pembangunan sistem berbasis komputer termasuk hardware, software development dan proses. Sedangkan pengembangan software merupakan bagian dari pengembangan sistem yang meliputi pembangunan software, infrastruktur, kontrol, aplikasi dan database pada sistem.

referensi

dosen.binadarma.ac.id/deroe/ftodwl/rpl%20bidar%201.doc

http://en.wikipedia.org/wiki/Software_development

www.ti.itb.ac.id/…/MSI%203%20-%20Pengembangan%20Sistem%20Informasi.ppt

http://teknologi.klasiber.uii.ac.id/file.php/1/PSI_I.pdf


Posted in Sistem Informasi Manajemen by with 1 comment.

MEMBANDINGKAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI SECARA OUTSOURCING DAN INSOURCING

PENDAHULUAN

Teknologi informasi adalah salah satu komponen bisnis dengan perkembangan yang sangat pesat. Selain itu, teknologi informasi juga merupakan sumberdaya bisnis yang sangat vital bagi perusahaan sehingga harus dikelola dengan sangat baik karena dapat menentukan keberhasilan atau malah menyebabkan kegagalan dalam penerapan strategi bisnis suatu perusahaan. Oleh sebab itu, pengelolaan Sistem Informasi (SI) dan Teknologi Informasi (TI) yang mendukung proses bisnis perusahaan menjadi tantangan tersendiri, baik bagi manajer bisnis dan TI maupun kalangan profesional.

Salah satu cara yang kini populer diterapkan untuk mengelola fungsi SI dan TI perusahaan adalah dengan mengadopsi sistem outsourcing. Sebelum tahun 1980, perusahaan cenderung untuk merencanakan, mengembangkan, mengoperasikan dan memelihara sistem informasinya sendiri. Namun, tren ini mulai berubah sejak beberapa perusahaan di negara-negara maju menyadari bahwa mereka harus lebih fokus dalam menjalankan bisnis utamanya dan menyerahkan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan TI, seperti pemrograman software, kegiatan operasional harian, pemeliharaan, dan lain-lain kepada perusahaan TI profesional. Outsourcing tampaknya semakin diminati oleh sebagian besar perusahaan mengingat sering tidak jelasnya prospek dunia usaha yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat baik dari sisi demand, pasar maupun teknologi.

Di samping outsourcing dikenal pula istilah insourcing. Secara terminologi insourcing memiliki arti yang berlawanan dengan outsourcing. Ketika suatu organisasi mendelegasikan pekerjaannya ke entitas lainnya, yang bersifat internal namun bukan bagian dari organisasi, inilah yang disebut dengan insourcing. Entitas internal tersebut biasanya memiliki tim khusus yang mahir menyediakan layanan yang dibutuhkan. Perusahaan kadang-kadang memilih untuk melakukan insourcing karena memungkinkan mereka untuk melakukan pengawasan yang lebih baik daripada jika mereka memilih outsourcing.

Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa alasan mengapa perusahaan lebih memilih melakukan outsourcing dalam pengembangan maupun penerapan SI dan TI di perusahaannya. Selain itu, akan dijelaskan pula apa saja keuntungan dan kelemahan dari pengelolaan SI dan TI dengan menggunakan strategi outsourcing maupun insourcing.

MENGAPA OUTSOURCING ?

Definisi

Menurut O’Brien dan Marakas (2010) dalam bukunya “Introduction to Information Systems”, istilah outsourcing dalam arti luas adalah pembelian sejumlah barang atau jasa yang semula dapat dipenuhi oleh internal perusahaan tetapi sekarang dengan memanfaatkan mitra perusahaan sebagai pihak ketiga. Dalam kaitannya dengan TI, outsorcing digunakan untuk menjangkau fungsi TI secara luas dengan mengontrak penyedia layangan eksternal.

Outsourcing TI juga dapat diterjemahkan dengan penyediaan tenaga ahli yang profesional di bidang TI untuk mendukung dan memberikan solusi guna meningkatkan kinerja perusahaan. Hal ini dikarenakan sering kali suatu perusahaan mengalami kesulitan untuk menyediakan tenaga TI yang berkompeten dalam mengatasi kendala-kendala TI maupun operasional kantor sehari-hari (www.midas-solusi.com). Jadi, outsourcing adalah pemberian sebagian pekerjaan yang tidak bersifat rutin (temporer) dan bukan inti perkerjaan di sebuah organisasi/perusahaan ke pihak lain atau pihak ketiga.

Alasan Perusahaan Melakukan Outsourcing

Menurut Rahardjo (2006), outsourcing sudah tidak dapat dihindari lagi oleh perusahaan. Berbagai manfaat dapat dipetik dari melakukan outsourcing, seperti penghematan biaya (cost saving), perusahaan bisa memfokuskan diri pada kegiatan utamanya (core business), dan akses pada sumber daya (resources) yang tidak dimiliki oleh perusahaan. Alasan yang sama juga dikemukakan dalam www.outsource2india.com dimana kebanyakan organisasi memilih outsourcing karena mendapatkan keuntungan dari biaya rendah (lower costs) dan layanan berkualitas tinggi (high-quality services). Selain itu, outsourcing juga dapat membantu organisasi dalam memanfaatkan penggunaan sumber daya, waktu dan infrastruktur mereka dengan lebih baik. Outsourcing juga memungkinkan organisasi untuk mengakses modal intelektual, berfokus pada kompetensi inti, mempersingkat waktu siklus pengiriman dan mengurangi biaya secara signifikan. Dengan demikian, organisasi akan merasa outsourcing merupakan strategi bisnis yang efektif untuk membantu meningkatkan bisnis mereka.

Dalam outsourcing, outsourcer dan mitra outsourcing-nya memiliki hubungan yang lebih besar jika dibandingkan dengan hubungan antara pembeli dan penjual. Hal ini dikarenakan outsourcer mempercayakan informasi penting perusahaan kepada mitra outsourcing-nya. Salah satu kunci kesuksesan dari outsource adalah kesepakatan untuk membuat hubungan jangka panjang (long term relationship) tidak hanya kepada proyek jangka dekat. Alasannya sangat sederhana, yaitu outsourcer harus memahami proses bisnis dari perusahaan. Perusahaan juga akan menjadi sedikit tergantung kepada outsourcer (Rahardjo, 2006). Saat ini, outsourcing tidak lagi terbatas pada outsourcing layanan TI tetapi  juga sudah merambah ke bidang jasa keuangan, jasa rekayasa, jasa kreatif, layanan entry data dan masih banyak lagi.

Keuntungan Dan Kelemahan Dari Outsourcing

Menurut Pasaribu (2010), Hal-hal yang menjadi pertimbangan perusahaan dalam memilih outsourcing adalah: harga, reputasi yang baik dari pihak provider outsourcing, tenaga kerja yang dimiliki oleh pihak provider outsourcing, pengetahuan pihak provider mengenai bentuk dari kegiatan bisnis perusahaan, pengalaman pihak provider outsource, eksistensinya, dan lain-lain.

Adapun beberapa keuntungan dari pengelolaan SI dan TI dengan sistem outsourcing antara lain:

  1. Biaya menjadi lebih murah karena perusahaan tidak perlu membangun sendiri fasilitas SI dan TI.
  2. Memiliki akses ke jaringan para ahli dan profesional dalam bidang SI/TI.
  3. Perusahaan dapat mengkonsentrasikan diri dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis intinya, karena bisnis non-inti telah didelegasikan pengerjaannya melalui outsourcing.
  4. Dapat mengeksploitasi skill dan kepandaian dari perusahaan outsource dalam mengembangkan produk yang diinginkan perusahaan.
  5. Mempersingkat waktu proses karena beberapa outsourcer dapat dipilih sekaligus untuk saling bekerja sama menyediakan layanan yang dibutuhkan perusahaan.
  6. Fleksibel dalam merespon perubahan SI yang cepat sehingga perubahan arsitektur SI berikut sumberdayanya lebih mudah dilakukan karena perusahaan outsource SI pasti memiliki pekerja TI yang kompeten dan memiliki skill yang tinggi, serta penerapan teknologi terbaru dapat menjadi competitive advantage bagi perusahaan outsource.
  7. Meningkatkan fleksibilitas untuk melakukan atau tidak melakukan investasi.

Selain keuntungan-keuntungan di atas, pengelolaan SI dan TI dengan sistem outsourcing juga memiliki kelemahan, diantaranya:

  1. Kehilangan kendali terhadap SI dan data karena bisa saja pihak outsourcer menjual data dan informasi perusahaan ke pesaing.
  2. Adanya perbedaan kompensasi dan manfaat antara tenaga kerja internal dengan tenaga kerja outsourcing.
  3. Mengurangi keunggulan kompetitif perusahaan karena pihak outsourcer tidak dapat diharapkan untuk menyediakan semua kebutuhan perusahaan karena harus memikirkan klien lainnya juga.
  4. Jika menandatangani kontrak outsourcing yang berjangka lebih dari 3 tahun, maka dapat mengurangi fleksibilitas seandainya kebutuhan bisnis berubah atau perkembangan teknologi yang menciptakan peluang baru dan adanya penurunan harga, maka perusahaan harus merundingkan kembali kontraknya dengan pihak outsourcer.
  5. Ketergantungan dengan perusahaan pengembang SI akan terbentuk karena perusahaan kurang memahami SI/TI yang dikembangkan pihak outsourcer sehingga sulit untuk mengembangkan atau melakukan inovasi secara internal di masa mendatang.

MENGAPA INSOURCING ?

Definisi

Insourcing adalah mengoptimalkan karyawan dalam perusahaan untuk dipekerjakan di luar perusahaan berdasarkan kompetensi dan minat karyawan itu sendiri dan difasilitasi oleh perusahaannya. Insourcing bisa dalam bentuk bekerja di luar perusahaan secara fulltime, fifty-fifty atau temporary. Kompensasi yang diterima juga mengikuti pola tersebut. Artinya mereka akan dibayar secara penuh oleh perusahaan yang menggunakannya, atau sharing dengan perusahaan asalnya atau perusahaan asal hanya menanggung selisih gaji (Zilmahram, 2009). Insourcing juga dapat didefinisikan sebagai transfer pekerjaan dari satu organisasi ke organisasi lain yang terdapat di dalam negara yang sama. Selain itu, Insourcing dapat pula diartikan dengan suatu organisasi yang membangun fasilitas atau sentra bisnis baru yang mengkhususkan diri pada layanan atau produk tertentu (en.wikipedia.org). Dalam kaitannya dengan TI, Insourcing atau Contracting merupakan delegasi dari suatu pekerjaan ke pihak yang ahli (spesialis TI) dalam bidang tersebut dalam suatu perusahaan.

Alasan Perusahaan Melakukan Insourcing

Organisasi biasanya memilih untuk melakukan insourcing antara lain dalam rangka mengurangi biaya tenaga kerja dan pajak. Organisasi yang tidak puas dengan outsourcing kemudian memilih insourcing sebagai penggantinya. Beberapa organisasi merasa bahwa dengan insourcing mereka dapat memiliki dukungan pelanggan yang lebih baik dan kontrol yang lebih baik atas pekerjaan mereka daripada dengan meng-outsourcing-nya (www.outsource2india.com). Sedangkan menurut Zilmahram (2009), Insourcing dapat terjadi karena hal-hal sebagai berikut:

  1. Kompetensi karyawan yang tidak optimal dimanfaatkan di dalam perusahaan.
  2. Terjadinya perubahan yang mengakibatkan beberapa kompetensi tertentu tidak dibutuhkan lagi di dalam perusahaan.
  3. Sebagai persiapan karyawan untuk menempuh karir baru di luar perusahaan.

Keuntungan Dan Kelemahan Dari Insourcing

Adapun beberapa keuntungan dari pengelolaan SI dan TI dengan sistem insourcing antara lain:

  1. Perusahaan memiliki kendali yang besar terhadap SI/TI-nya sendiri.
  2. Mengurangi biaya tenaga kerja karena biaya untuk pekerja dalam perusahaan biasanya lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan untuk pekerja outsource.
  3. Menyalurkan pemanfaatan kompetensi perusahaan secara optimal.
  4. Memiliki kemampuan untuk melihat keseluruhan proses pengembangan SI.
  5. Sistem Informasi yang dibuat dapat direncanakan secara terstruktur sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  6. Mudah untuk melakukan modifikasi dan pemeliharaan (maintenance) terhadap SI karena proses pengembangannya dilakukan oleh internal perusahaan tersebut.
  7. Lebih mudah dalam mengintegrasikan SI yang dikembangkan oleh perusahaan dengan sistem yang sudah ada.
  8. Proses pengembangan sistem dapat dikelola dan dimodifikasi serta dikontrol keamanan aksesnya (security acces).
  9. Dapat dijadikan sebagai keunggulan kompetitif (competitif advantage) perusahaan dibandingkan pesaing.

Selain keuntungan-keuntungan di atas, pengelolaan SI dan TI dengan sistem insourcing juga memiliki kelemahan, diantaranya:

  1. Membutuhkan investasi yang tinggi karena biaya pembuatan sistem harganya sangat mahal.
  2. Pengembangan SI dapat memakan waktu yang lama karena harus merancangnya dari awal.
  3. Adanya communication gap antara IT Specialist dan user.
  4. Kesulitan dalam menyatakan kebutuhan users sehingga menyulitkan spesialis TI dalam memahaminya dan seringkali hal ini menyebabkan SI yang dibuat kurang memenuhi kebutuhan user.
  5. Adanya resiko yang harus ditanggung sendiri oleh perusahaan jika terjadi masalah atau kesalahan dalam pendefinisian kebutuhan data dan informasi.
  6. Kurangnya tenaga ahli (expert) di bidang SI/TI yang kompeten dan memiliki skill yang memadai dapat menyebabkan kesalahan/resiko yang harus ditanggung sendiri oleh perusahaan.
  7. Perusahaan belum tentu mampu melakukan adaptasi dengan perkembangan TI yang sangat pesat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang up to date.

KESIMPULAN

Untuk menentukan strategi mana yang akan digunakan dalam suatu perusahaan, sangat tergantung dari situasi yang ada. Tentu saja dengan mempertimbangkan pula keunggulan dan kelemahan serta manfaat dan resiko yang mungkin dialami oleh perusahaan. Misalnya: outsourcing dapat dijadikan pilihan jika dibutuhkan waktu yang cepat dalam pengembangan aplikasi atau jika perusahaan memiliki sejumlah proses bisnis non-inti yang memerlukan banyak waktu, usaha, dan sumberdaya untuk dilaksanakan. Outsourcing dalam hal ini, akan membantu menghemat waktu, usaha, tenaga kerja dan juga akan membantu pengiriman yang lebih cepat untuk pelanggan perusahaan. Sebaliknya, insourcing lebih tepat untuk dipilih jika suatu aplikasi merupakan inti bisnis perusahaan atau jika telah ada suatu divisi khusus dalam perusahaan yang ahli dalam suatu bidang tertentu. Hal ini akan dapat menghemat biaya dan perusahaan memiliki kontrol yang lebih baik atas pekerjaan yang dilakukan.

Perusahaan tidak harus memilih outsourcing atas insourcing atau sebaliknya. Suatu perusahaan dapat melakukan outsource dan insource pada saat yang sama. Dengan outsourcing dan insourcing secara bersamaan, maka perusahaan akan dapat memiliki apa yang terbaik dari yang ditawarkan kedua strategi di atas dan bisnis akan mendapatkan keuntungan kompetitif.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Outsourcing vs Insourcing: What’s best for your Organization?. http://www.outsource2india.com/why_india/articles/outsourcing-versus-insourcing.asp.

_______. Outsourcing. http://en.wikipedia.org/wiki/Outsourcing.

_______. IT Outsourcing. http://www.midas-solusi.com/products-services,en,detail,9,it-outsourcing

O’Brien, J. A. and G. M. Marakas. 2010. Introduction to Information Systems, fifteenth edition. The McGraw-Hill Companies, Inc.

Pasaribu, F.T.P. 2010. Outsourcing, Insourcing, dan Selfsourcing. http://ferry1002.blog. binusian.org/?p=128.

Rahardjo, B. 2006. Kesulitan Outsourcing di Indonesia. http://rahard.wordpress.com/2006/ 02/25/kesulitan-outsourcing-di-indonesia/.

Zilmahram, T. 2009. Outsourcing dan Insourcing. http://habahate.blogspot.com/2009/06/ outsourcing-dan-insourcing.html.


Posted in Sistem Informasi Manajemen by with 13 comments.

Hello world!

Welcome to Blog Mahasiswa MB IPB. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Blog Mahasiswa MB IPB


Posted in Sistem Informasi Manajemen by with 1 comment.
Skip to toolbar